2008-01-31

Perang Salib (1095- 1291)

Raja Inggris, Richard si Hati Singa, tengah menggigil demam di tendanya.
Ambisinya untuk segera menghancurkan pasukan Islam harus ia tunda. Tentara
harus ia istirahatkan. Kini ia menunggu kedatangan seorang tabib. Tabib itu
ternyata adalah musuh besarnya, Salahuddin Al-Ayyubi, panglima besar pihak
Islam yang dengan berani menyusup ke tenda lawan. Secara moral, Salahuddin
telah memenangkan pertarungan.

Kisah tersebut sering dituturkan, dan menjadi salah satu cerita paling
menarik dalam peristiwa Perang Salib. Peristiwa perang antar agama ini
bermula dari sukses misi kecil militer Alp Arselan -pemimpin Seljuk yang
menjadi panglima perang Daulat Abbasiyah. Sekitar 15.000 tentaranya berhasil
mengalahkan pasukan gabungan Romawi, Perancis, Armenia, Ghuz, Akraj, Hajr
dalam pertempuran di Manzikart 464 Hijriah (1071 Masehi).

Tentara Baghdad, sepeninggal Arselan, malah merebut Yerusalem pada 471
Hijriah atau sekitar 1078 Masehi. Sebelum itu, Yerusalem dikuasai oleh
Kekhalifahan Fathimiyah -dinasti beraliran Syi'ah yang berpusat di Kairo -
Mesir. Fathimiyah memberi keleluaasan bagi orang-orang Nasrani untuk
berkunjung ke kota suci Yerusalem. Abbasiyah di Baghdad membuat ketentuan
baru yang mempersulit kunjungan tersebut.

Pada 1095 Masehi, pemimpin tertinggi Katolik Paus Urbanus II menyeru seluruh
masyarakat Kristen di Eropa agar melakukan Perang Suci. Seruan tersebut
segera disambut oleh para raja. Musim semi 1095 Masehi -demikian tulis Badri
Yatim di "Sejarah Peradaban Islam"-150 ribu pasukan, terutama dari Perancis
dan Norman, bergerak ke Konstantinopel dan kemudian Yerusalem.

Nicea dan Edessa berhasil mereka rebut pada 18 Juni 1097 dan 1098. Mereka
kemudian merebut Antiokia. Baitul Maqdis atau Yerusalem bahkan jatuh pada 15
Juli 1099. Yerusalem bahkan dijadikan ibukota kerajaan baru. Godfrey
diangkat sebagai raja. Kota-kota penting di pantai Laut Tengah seperti Tyre,
Tripoli dan Akka juga berhasil dikuasai Pasukan Salib.

Hampir setengah abad wilayah Yerusalem dan laut Tengah itu penuh dalam
kekuasaan Kristen. Namun, pada 1144, ketenangan itu terusik. Penguasa Mosul
dan Irak, Imaduddin Zanki dan anaknya, Nuruddin Zanki merebut wilayah Aleppo
dan Edessa. Pada 1151, seluruh kawasan di Edessa berhasil mereka kuasai. Ini
mendorong Paus Eugenius III kembali menyerukan perang suci. Raja Perancis
Louis III dan Raja Jerman Condrad III memimpin pasukan menggempur kekuatan
Islam. Namun mereka kalah, dan terpaksa mundur.

Salahuddin Al-Ayyubi, panglima yang memegang kendali pasukan setelah
Nuruddin wafat, malah mencatat sukses besar. Ia mendirikan kekhalifahan
Ayyubiyah di Mesir menggantikan kekuasan Fathimiyah. Pada 1187, ia berhasil
merebut Yerusalem dan mengakhiri kekuasaan kaum Nasrani di sana selama 88
tahun. Pasukannya juga harus berhadapan dengan kekuatan paling besar yang
dikomandoi Raja Inggris Richard, Raja Perancis Philip Augustus serta Raja
Jerman Frederick Barbarosa.

Pada 2 Nopember 1192, Salahuddin -tokoh terbesar Kurdi (bangsa yang sekarang
terbelah di tanah yang menjadi wilayah Irak, Syria, Turki dan
Iran)-menandatangani perjanjian dengan musuhnya. Ia akan memberi kemudahan
kaum Nasrani berkunjung ke Yerusalem. Namun pihak Kristen, yang dikomandoi
Raja Jerman Frederick II, kemudian mengincar kembali Yerusalem. Mereka
berhasil merebut wilayah Dimyar, pada 1219. Pengganti Salahuddin, Malik
al-Kamil, kemudian menukar Dimyar dengan Yerusalem.

Kalangan Nasrani sempat menguasai kembali Baitul Maqdis sekitar seperempat
abad. Namun, angin kembali berubah. Di Mesir, kekuasaan kekhalifahan
Ayyubiyah diakhiri oleh dinasti Mamluk. Malik al-Shalih, pemimpin Mamluk
merebut kembali Baitul Maqdis, pada 1247. Setelah itu, perang Islam-Kristen
masih terus terjadi sampai kota Akka direbut lagi pihak Islam pada 1291.

Perang Salib telah mengantarkan orang-orang Eropa dalam jumlah besar untuk
berinteraksi dengan masyarakat Islam. Interaksi tersebut membuat mereka
banyak mengadopsi peradaban dari kalangan muslim.'Bath-up' yang menjadi
tempat mandi masyarakat Barat sekarang ini, kabarnya diadopsi dari bejana
tempat berwudhu orng-orang Turki muslim. Namun Perang Salib juga melahirkan
provokasi kebencian terhadap Islam di lingkungan masyarakat Barat.

Sumber : http://www.pesantren.net

Comments :

1

belum selesai atau udah ya sekarang perang salib?
heheheheheh....

Rani Fitriyani said...
on 

Post a Comment

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).