2008-02-04

Para Belia yang Cabul

Pengaruh pornografi tak hanya meracuni orang dewasa. Mereka yang masih belia juga ikut kena dampaknya. Gara-gara sering menonton film porno, tujuh bocah di Samarinda, mecabuli perempuan berusia delapan tahun. Ketujuh bocah itu berusia 11-16 tahun. Mereka tinggal tak jauh dari rumah korban di Jl Jelawat, Samarinda, Kalimantan Timur.

Orang tua korban, MN, mengisahkan, peristiwa mengenaskan itu diketahui setelah anaknya sering mengeluh kesakitan saat buang air kecil. Setelah ditanya ihwal keluhannya, korban mengaku telah dicabuli di sebuah pondokan, dekat Sungai Karang Mumus, Samarinda.

Mulanya, sekelompok bocah, termasuk korban, berkumpul di rumah salah satu dari mereka, yang sedang ditinggalkan orang tuanya. Kesempatan itu kemudian mereka gunakan untuk berama-sama menyaksikan film porno. Menurut pengakuan para tersangka, mereka telah menyuruh korban untuk pulang. Tapi, itu diabaikan.

Empat hari setelah ''nonton bareng'', sekelompok bocah belia itu bermain bersama di tepi Sungai Karang Mumus. Terinspirasi film porno, mereka kemudian mencoba memegang-megang organ kewanitaan korban. Para tersangka menceritakan, korban tidak melawan saat mulai dicabuli. Keesokan harinya, kejadiannya lebih parah. Mereka menggauli korban secara bergantian.

Kapolres Samarinda, Kombes Pol Drs Jusman Aer, yang didampingi Kasat Reskrim Kompol Yassir, membenarkan bahwa telah terjadi kasus tersebut. Meski pelakunya masih belia, dia tetap akan menjalankan proses hukum kasus tersebut. ''Kami merencanakan akan meminta tim dari Balai Pemasyarakatan Anak Samarinda (Bapas) ikut mendampingi para tersangka saat diperiksa,'' katanya.

Kasus lain yang masih berkait dengan efek pornografi terjadi lebih mencengangkan di Taiwan. Harian The Straits Times pernah memuat cerita tentang bocah berusia tujuh tahun yang keranjingan menonton film porno. Dia tertular kebiasaan itu dari kakeknya yang kecanduan berat dengan film-film panas.

Sejak belajar berjalan, bocah tersebut sering ikut menyaksikan film porno yang diputar pengasuhnya. Waktu itu, kakek yang menjadi pengasuh berpikir, bayi asuhannya itu tidak akan mengerti film yang ditontonnya. Tapi, perkiraan itu meleset.

Saat bocah itu mulai bisa menghidupkan televisi, dia tidak suka menyaksikan film anak-anak. Dia lebih senang memutar film-film porno. Nyonya Liu yang diidentifikasi sebagai ibunya, baru menyadari gejala tersebut ketika sang anak berusia tiga tahun. Selama ini, ia sibuk bekerja, sehingga tidak bisa memperhatikan perilaku anaknya secara cermat.

Suatu ketika, dia memergoki anaknya sedang menikmati film cabul. Hal itu kemudian membuatnya berpikir mundur tentang berbagai perilaku ganjil anaknya. Selain menikmati film porno, bocah laki-laki itu juga senang digendong di dada perempuan.

Saat masuk taman kanak-kanak, bocah itu senang menyingkap rok guru perempuannya. Dia juga gemar sekali menggambar perempuan tanpa busana. Nyonya Liu kemudian meminta ahli kejiwaan untuk menyembuhkan kelainan anaknya. Sungguh luar biasa efek pornografi dalam meracuni anak-anak zaman sekarang. ant/irf

Comments :

0 comments to “Para Belia yang Cabul”


Post a Comment

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).