2008-01-29

Monogami: Beresiko Punah Bagi Beberapa Spesies?

Mamalia yang Memiliki Banyak Pasangan Lebih Mampu Bertahan
Ghana, Jumat



Monyet red colubus (Procolobus badius), terancam karena hanya memiliki sedikit pasangan.
Monogami sepertinya merupakan gaya hidup yang romantis. Namun untuk beberapa jenis binatang kesetiaan terhadap satu pasangan bisa jadi membahayakan kelangsungan hidup spesiesnya.

Penelitian terbaru yang dilakukan terhadap penghuni suaka margasatwa Ghana menunjukkan hubungan yang menarik antara resiko kepunahan dengan ’kehidupan rumah tangga’ hewan-hewan di sana. Binatang-binatang yang memiliki lebih sedikit teman kencan beresiko punah lebih besar. Penemuan itu menimbulkan pemikiran bahwa upaya konservasi barangkali lebih tepat diterapkan pada binatang-binatang yang hanya berkencan dengan sedikit atau satu pasangan.
"Untuk menghindari kepunahan, hewan-hewan itu harus lebih agresif, terbuka dan tidak pilih-pilih pasangan," ujar Justin Brashares, ahli konservasi biologi dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, yang mempublikasikan penelitiannya tersebut di journal Conservation Biology baru-baru ini.
Nasib Buruk Bagi yang Setia



Duiker, 'si setia' yang nyaris punah.
Brashares meneliti tingkat populasi mamalia-mamalia besar di enam suaka margasatwa Ghana, dimana para petugasnya telah mencatat populasi hewan sejak lebih dari 30 tahun. Selama kurun waktu tersebut, 78 spesies diketahui hilang dari wilayah itu, kebanyakan disebabkan karena perburuan dan rusaknya habitat.
Ia juga menemukan bahwa berkurangnya jumlah binatang tertentu terkait pula dengan dua hal: populasi mereka terisolasi sehingga sulit menemukan pasangan, serta adanya kebiasaan dimana pejantan ’terlalu setia’ sehingga hanya kawin dengan satu atau sedikit betina.
Di antara binatang yang menghilang dari Ghana adalah beberapa spesies duiker, sejenis antelop kecil yang hanya kawin dengan satu pasangan. Sedangkan yang terancam punah adalah beberapa jenis monyet colobus yang pejantannya hanya hidup dengan dua atau tiga monyet betina.
Sementara itu, kerbau Afrika, yang pejantannya berkuasa atas sekitar 15 kerbau betina, lebih mampu bertahan menghadapi ancaman kepunahan. Hal yang sama dialami pula oleh baboon, mandrill, dan hewan-hewan lain yang memiliki ’harem’ dan menerapkan cara hidup poligami.
Dunia yang Penuh Poligami



Mandrill (Mandrillus sphinx) bertahan karena memiliki harem.
Sesungguhnya kebiasaan memiliki hanya satu pasangan (monogami) adalah sesuatu yang jarang dalam dunia binatang. Di antara sekitar 4.000 spesies mamalia, kurang dari 3 persen saja yang hidup setia dengan satu pasangan. Mereka adalah beberapa jenis duiker, monyet colobus, dan sejenis tikus prairi.
Sesungguhnya srigala dan anjing liar Afrika adalah hewan monogamus, namun itu lebih disebabkan karena struktur sosial kelompoknya dimana hanya betina utama dan pejantan utama yang berhak menurunkan kawin dan menurunkan anak-anak.
Sementara pada manusia, sekitar 40 persen pria dan 30 persen wanita di AS diketahui setidaknya melakukan satu kali affair di luar pernikahan, dan lebih dari 80 persen masyarakat di dunia mengenal jenis-jenis hubungan yang bisa dikategorikan sebagai suatu bentuk poligami, demikian ditulis David Barash dan Judith Eve Lipton, dalam buku ’The Myth of Monogamy’.
Lebih jauh, para peneliti juga menemukan bahwa bangsa burung pun --yang dikenal luas sebagai hewan monogamus-- ternyata melakukan perkawinan diam-diam dengan lawan jenis yang bukan pasangan resminya.



Burungpun berselingkuh...
"Kami menggunakan teknik biokimia untuk menguji kesetiaan burung, dan hasilnya ternyata mengejutkan," kata David Westneat, profesor biologi di George Mason University, Virginia. "Spesies yang dikenal monogami ternyata seringkali memiliki anakan yang dibuahi ’teman kencan gelapnya’. Jumlah anakan ’haram’ itu mencapai 10 hingga 55 persen."
Penjelasan mengenai hal itu sebenarnya cukup jelas: Burung jantan yang kawin sembunyi-sembunyi dengan pasangan orang lain sebenarnya berusaha menghasilkan sebanyak mungkin keturunannya sendiri. Sedangkan burung betina seringkali diuntungkan karena dapat memilih ayah yang sehat bagi anak-anaknya.
Resiko Monogami



Gelada, pasangannya banyak.
Di suaka margasatwa Ghana, masih belum jelas bagaimana monogami atau kebiasaan memiliki sedikit pasangan bisa berujung pada kepunahan. Namun demikian teori-teori yang diajukan Brashares --selain lebih banyak istri tentu saja lebih banyak keturunan-- cukup masuk akal.
Binatang yang hidup dalam kelompok besar akan lebih mudah mengetahui adanya bahaya. Sementara spesies-spesies yang hidup dalam kelompok kecil atau hanya berduaan saja lebih rawan diserang binatang pemangsa.
Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Benarkah monogami menimbulkan resiko kepunahan yang lebih besar? Belum tentu, karena cara hidup monogami seringkali merupakan akibat kondisi alam yang memaksa binatang menerapkan cara itu. Binatang hidup monogami kadang disebabkan karena anak mereka membutuhkan perhatian yang lebih di suatu wilayah yang tidak banyak terdapat makanan. Bagaimana repotnya mengurusi banyak anak dari banyak istri bila mencari makanan sulit?
Jadi barangkali faktor-faktor alam itulah yang membuat suatu jenis binatang terancam punah, bukan kehidupan seksual mereka. Monogami bahkan bisa jadi merupakan cara untuk menghindarkan diri dari lebih banyak kematian.
"Banyak faktor berkaitan dengan monogami yang bisa dihubungkan dengan tingginya tingkat kematian," tandas Westneat. "Namun kita jelas tidak bisa menyalahkan semuanya pada cara hidup monogami." (ABCnews/wsn)
[http://www.kompas.com/teknologi/news/0306/20/132932.htm]

Comments :

1

terimakasih atas informasinya...

Rani Fitriyani said...
on 

Post a Comment

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).