2008-02-01

97,05% Mahasiswi Yogya Tak Perawan

Psikolog UGM: Awasi Kos-kosan!
Reporter : Bagus Kurniawan

detikcom - Yogyakarta, Apa yang salah sehingga 97,05% mahasiswi Yogyakarta hilang kegadisannya? Menurut psikolog sosial asal UGM, Mohammad As’ad, hal itu terjadi karena suasana kos-kosan yang mendukung, tanpa kontrol. Karena itu, guna mengatasinya ya perlu dilakukan pengawasan pengelolaan kos-kosan.

“Kasus ini sangat memprihatinkan," komentarnya pada detikcom per telepon, Jumat (2/8/2002). Berdasarkan pengamatan As'ad, Yogya sekitar sejak 2 tahun lalu memang terjadi perubahan besar. Terutama perilaku mahasiswa.

"Ini diakibatkan terjadinya pergeseran dalam perilaku permisif atau serba boleh. Dan juga ada perubahan orientasi dalam pengelolaan kos-kosan. Sehingga hubungan induk semang dan penghuni kos hanya bersifat ekonomis yaitu antara penjual dan konsumen, tanpa memperhatikan nilai-nilai sosial yang ada,” papar As’ad.

Menurutnya, dulu kalau orang kos di Yogyakarta, hubungan sosialnya sangat dekat dengan pemilik rumah maupun dengan masyarakat. Namun sekarang ini telah berubah. “Dengan pemilik rumah pun kadang-kadang tidak kenal, apalagi dengan warga sekitar,” kata As’ad.

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa ini juga menyatakan, terjadinya perubahan perilaku seksual ini berbanding lurus dengan merebaknya kasus narkoba di Yogyakarta yang diakibatkan perilaku yang serba boleh tanpa ada yang mengontrol.

Namun di sisi lain, menurut As’ad, selain diakibatkan pergaulan bebas, juga dipengaruhi media televisi yang menyuguhkan gambar-gambar yang sedikit meresahkan. “Untuk menangani itu, saya mengusulkan pertama kali yang harus dibenahi adalah dalam pengelolaan kos-kosan, sedikit banyak Pemda setempat bisa membuat Perda mengenai kos-kosan. Sebab sampai saat ini dasar usaha kos-kosan terbebas pajak. Padahal di wilayah Sleman dan Kodya Yogyakarta banyak pemilik kos-kosan yang mempunyai kamar 30-60 kamar. Dan itu tanpa pajak,” papar As’ad.

Di samping kos-kosan yang perlu diawasi, di Yogya berkembang rumah kontrakan yang ditempati mahasiswa secara campur. “Itu yang sekarang menjadi penyebab freesex,” demikian As’ad.







97,05% Mahasiswi di Yogyakarta Hilang Kegadisannya
Reporter : Bagus Kurniawan

detikcom - Yogyakarta, Sungguh mencengangkan dan mengerikan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.

Yang lebih mengenaskan, semua responden mengaku melakukan hubungan seks tanpa ada paksaan. Semua dilakukan atas dasar suka sama suka dan adanya kebutuhan. Selain itu, ada sebagian responden mengaku melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan dan tidak bersifat komersil.

Hal itu dikemukakan Direktur Eksekutif LSCK PUSBIH, Iip Wijayanto, kepada wartawan di gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Jl. Malioboro, Yogyakarta, Kamis (1/8/2002).

Menurut Iip, penelitian itu dilakukan selama 3 tahun mulai Juli 1999 hingga Juli 2002, dengan melibatkan sekitar 1.660 responden yang berasal dari 16 perguruan tinggi baik negeri maupun swasta di Yogya. Dari 1.660 responden itu, 97,05 persen mengaku sudah hilang keperawanannya saat kuliah.

Hanya ada tiga responden atau 0,18 persen saja yang mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks, termasuk masturbasi. "Ketiga responden itu juga mengaku sama sekali belum pernah mengakses tontonan maupun bacaan berbau seks," ungkapnya.

Menurut Iip, berdasarkan hasil tersebut, total responden yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpasangan hanya 2,95 persen atau 2,77 persen ditambah 0,18 persen. Sementara sebanyak 97,05 persen telah melakukan kegiatan seks berpasangan. Sebanyak 73 persen menggunakan metode coitus interuptus. Selebihnya menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas di pasaran.

Selain itu, hanya ditemukan 46 mahasiswi atau 2,77 persen responden saja yang belum pernah melakukan seks berpasangan di bawah level petting seks. "Alasan mereka tidak melakukan seks berpartner, selain takut kepada orang tuanya, mereka juga masih berpikir untuk menjadi contoh adik-adiknya," kata Iip.

Apabila dilihat tempat mereka melakukannya, lanjut Iip, sebanyak 63 persen melakukan kegiatan seks di tempat kost pria pasangannya. Sebanyak 14 persen dilakukan di tempat kost putri atau rumah kontrakannya. Selanjutnya 21 persen di hotel kelas melati yang tersebar di kota Yogya dan 2 persen lagi di tempat wisata yang terbuka.

Yang lebih mencengangkan lagi, tempat yang digunakan untuk melakukan seks hampir sebagian besar berada di wilayah Jalan Kaliurang dan Jalan Gejayan yang merupakan kawasan kos-kosan terbesar bagi mahasiswa yang kuliah di PTN dan PTS terbesar di Yogya.

Iip menambahkan, sebanyak 98 persen responden juga mengaku pernah melakukan aborsi. Sebanyak 23 responden di antaranya mengaku telah melakukan aborsi lebih dari satu kali. Sementara 12 responden lagi mengaku lebih dari dua kali. Mereka mengaku melakukan aborsi dengan cara mengkonsumsi obat flu dan ragi dalam jumlah besar.

Agar tidak ketahuan pemilik kos ataupun petugas ronda kampung, responden mengaku mengakali dengan cara memasukkan pasangannya sejak pukul 07.00 WIB dan baru keluar atau pulang pada pukul 21.00 malam.(bgs, ani)


INILAH SURVEI KEPERAWANAN di YOGYAKARTA
Detik.com
Sungguh mencengangkan mengetahui kehidupan seks mahasiswi di kota pelajar Yogyakarta. Suatu penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora (LSCK PUSBIH) menunjukkan hampir 97,05 persen mahasiswi di Yogyakarta sudah hilang keperawanannya saat kuliah.
Penelitian ini dipaparkan dalam jumpa pers Kamis (1/8/2002). Berikut naskah komplet hasil penelitian yang disebarkan pada wartawan:
Bismillahirrahmanirrahim
97 Persen Mahasiswi Di Yogyakarta,
Sudah Kehilangan "Virginitas (Keperawanan)"
Lembaga Studi Cinta dan Kemanusiaan serta Pusat Pelatihan Bisnis dan Humaniora
I. TUJUAN PENELITIAN
A. Konteks Penelitian
Penelitian ini dilakukan utnuk mengetahui sejauh mana kerusakan dan dekadensi moral yang sudah terjadi di tengah-tengah generasi muda kita, khususnya pada jenjang usia (data interval) antara 17 tahun - 23 tahun atau sering diistilahkan sebagai usia rata-rata mahasiswa kita dalam menuntut ilmu di jenjang perguruan tinggi. Mengapa ini sangat perlu dilakukan? Kami memiliki beberapa alasan:
• Penetrasi pornografi yang meningkat pesat melalui jaringan penyewaan VCD porno (model semi-triple), buku dan majalah porno lokal maupun impor dan masih banyak lagi.
• Maraknya aksi seks di kost-kostan yang hampir merata di seluruh wilayah pemukiman mahasiswa yang ada di Jogjakarta.
• Meningkatnya tingkat aborsi, khususnya di region Jawa Tengah dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini yang dilakukan oleh kelompok usia sasaran penelitian.
• Meningkatnya kegiatan prostitusi yang dilakukan oleh mahasiswi-mahasiswi, dalam berbagai tingkatan status dari penjaja seks sosial, penjaja seks suka sama suka hingga yang murni komersial.
• Meningkatnya tingkat peredaran narkoba sebagai fasilitas pendukung untuk dapat menikmati seks lebih maksimal.
• Meningkatnya kegiatan kumpul kebo, terlembaga atau pun tidak.
Atas dasar alasan-alasan inilah kami terpanggil untuk melakukan penelitian ini, agar dapat ditemukan berbagai treatment, formulasi serta langkah-langkah antisipatif untuk merespon perubahan yang sangat cepat ini.
B. Fokus Penelitian
Adapun kami memfokuskan penelitian ini kepada komunitas mahasiswi yang tersebar di seluruh institusi perguruan tinggi di Jogjakarta. Pemilihan kelompok sasaran perjenis kelamin ini adalah karena pada umumnya secara psikologis mereka dapat lebih jujur dalam memberikan data yang kami butuhkan. Selain itu kegiatan seks penuh (intercourse sex) harus dilakukan berpartner sehingga dari sana secara langsung dapat diketahui seberapa banyak pelaku kegiatan seks di luar nikah itu dari kelompok sasaran lawan jenisnya yang bisa jadi dalam deret hitung atau bahkan deret kali.
Sedangkan untuk wilayah, kami memilih Jogjakarta karena secara geografis sebaran lokasi perguruan tinggi tidak terlalu menyulitkan untuk dapat dicapai dalam waktu cepat selain kendala finansial yang memang dialami oleh banyak peneliti, khususnya para peneliti sosial.
II.STUDI PENDAHULUAN
Untuk mendukung akurasi dan tingkat keilmiahan penelitian kami ini, kami membuat kerangka kerja dalam penelitian kami ini yang meliputi:
Metode yang digunakan
Jenis metode yang digunakan adalah Metode Penelitian Deskriptif Survei, meliputi :
Pendekatan menurut teknik sampling.
Pendekatan menurut timbulnya variable.
Pendekatan menurut pola-pola atau sifat non-eksperimen.
Pendekatan menurut model pengembangan atau model pertumbuhan.
Sumber data
Kami membuat beberapa kuisioner tertutup dan lebih spesifik melalui wawancara, sehingga sumber data kami dapat disebut sebagai: responden (orang yang menjawab pertanyaan peneliti, lisan atau pun tulisan)
Teknik analisis data
Untuk menghindari terjadinya garbage in garbage out (data yang kita olah tidak jelas, akan menghasilkan sesuatu yagn tidak jelas) maka kami menggunakan teknik analisis yang digunakan oleh Denzin dan Lincoln, 1994:429 yang meliputi: koleksi data; display data; reduksi data dan kesimpulan penggambaran/vertifikasi.
Jadwal dan waktu pelaksanaan
Penelitian, analisis dan evaluasi akhir kami lakukan mulai dari tanggal 16 Juli 1999 hingga tanggal 16 Juli 2002 atau sekitar 3 (tiga) tahun. Mengapa terlalu lama, karena kami menetapkan standar yang tinggi untuk setiap data yang kami kumpulkan serta jumlah responden yang cukup mewakili. Selain itu, untuk setiap responden dibutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dapat mengeluarkan statement jujur.
III. RUMUSAN MASALAH
A. Deskripsi Informasi
Pada paruh tahun 1999, kami membaca di salah satu surat kabar bahwa hampir 50% mahasiswa di Yogyakarta pernah melakukan kegiatan sexintercourse. Statemen ini tentunya ibarat gunung es karena ternyata kalau kita lihat terus ke belakang, ternyata angka peningkatannya bukan lagi deret hitung tapi deret kali. Dan data-data ini signifikan.
Lebih jauh karena fungsi Yogyakarta sendiri sebagai kota pendidikan sehingga ketika muncul temuan seperti ini maka banyak sekali hal-hal yang harus kita kaji ulang. Sebagai contoh dengan kegiatan visit-tourism, di satu sisi itu adalah devisa namun pernahkah kita memperhitungkan penetrasi budaya yang ditularkan dari wisatawan manca tadi kepada penduduk lokal yang ternyata jika kita mau mengkajinya lebih jernih bahwa kerugian kita akibat erosi moral ini ke depannya akan jauh lebih mahal ketimbang jumlah orientasi materi yang dapat kita raih. Dan semuanya adalah ongkos sosial yang sangat mahal untuk ditebus oleh anak cucu kita.
A. Deskripsi Penemuan
Terlalu banyak temuan yang sangat memilukan, yang kami temukan selama kegiatan penelitian ini berlangsung. Secara keseluruhan kami melibatkan 2.000 responden yang berasal dari 16 institusi perguruan tinggi yang tersebar di seluruh Yogyakarta. Dari angka tersebut, kami berhasil mendapatkan responden yang bersedia untuk menjadi pemasok data sejumlah 1.660 orang responden atau sekitar 83% dari target awal.
Kemudian kami menetapkan angka 1.660 responden inilah sebagai keseluruhan data yang akan dianalisis. Berbagai temuan yang terkadang terlihat lucu tapi terasa sangat pedih itu, dan setidaknya perlu kami masukkan dalam tulisan report ini sebagai bahan perenungan kita bersama diantaranya :
• Hampir semua responden pernah melakukan kegiatan seks, baik itu yang sifatnya self service maupun berpartner.
• Kegiatan aborsi berbahaya dan berisiko tinggi yang dilakukan hampir oleh seluruh mereka yang mendapat kehamilah di luar nikah. Salah satu contoh dengan menelan obat flu dan ragi dalam jumlah besar.
• Tidak ditemukan tindakan pemaksaan dalam kegiatan seks tadi, atau semuanya dilakukan atas dasar suka sama suka.
• Rata-rata sudah pernah melakukan tindakan seks hingga tingkat petting, oral seks dan anal seks.
• 25% dari total responden (415) bahkan sudah melakukannya dengan lebih dari satu partner.
C. Analisis Data
Total Responden: 1660 orang
Data nominal (discrete)
Teknis : Cluster Random
Analisis :
Hanya ditemukan 3 orang saja responden yang mengaku sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks, termasuk juga kegiatan seks self service (masturbasi). Jadi hanya terdapat angka 0,18% responden yang sama sekali belum pernah melakukan kegiatan seks tadi. Ke-3 responden tadi juga mengaku sama sekali belum pernah mengakses tontonan maupun bacaan erotis.
Hanya ditemukan 46 orang yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner di bawah level petting sex. Jadi sekitar 2,77% saja. Total dengan responden sebelumnya, jumlah responden yang belum pernah melakukan kegiatan seks berpartner : 2,77% + 0,18% = 2,95% saja. Jadi 97,05% mahasiswi di Yogyakarta pernah melakukan kegiatan sexintercourse pranikah atau 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan kegadisannya dalam proses studinya.
100% dari 97,05% data responden itu mengakui kehilangan keperawanannya (virginitas) dalam periodisasi waktu kuliahnya.
73% menggunakan metode coitus interupt sedangkan selebihnya menggunakan alat kontrasepsi yang dijual bebas.
63% responden melakukan kegiatan seks di kos-kosan partner seks prianya. 14% responden mengaku melakukan kegiatan seks di kos-kosan atau kontrakan yang disewanya. 21% mengaku melakukan kegiatan seks di hotel kelas melati. 2% responden melakukan kegiatan seks di tempat-tempat wisata yang terbuka.
Dari 1660 responden, 23 orang diantaranya mengaku telah melakukan kegiatan kumpul kebo atau tinggal serumah tanpa ikatan pernikahan selama lebih dari 2 tahun (1,386%). 5 orang (0,3%) diantaranya mengaku mendapatkan izin dari orangtua si responden. 2 orang diantaranya (0,12%) bahkan tinggal seatap dengan orangtua dari salah satu pihak, dan kegiatan seksnya diketahui oleh orangtua tanpa treatment pernikahan.
1.417 responden (85,36%) mengakui tidak punya aktivitas lain selain kuliah.
98 responden (5,90%) mengaku pernah melakukan aborsi.
23 responden (1,38%) dari 98 responden itu mengaku pernah melakukan aborsi lebih dari satu kali.
12 responden (0,72%) dari 98 responden itu mengaku pernah melakukan aborsi lebih dari dua kali.
D. Hipotesis
99,82% mahasiswi di Yogyakarta sudah mengenal seks dan pernah melakukan kegiatan yang mengarah ke sana. 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah kehilangan virginitas melalui kegiatan intercourse-seks.
D.Hipotesis:
Dengan kemajuan teknologi informasi yang luar biasa dan tatanan dunia global, seks telah menjadi kebutuhan pokok pada usia yang sangat dini. Keterangan : Usia dini di sini bukanlah kematangan organ seks, tapi kematangan psikis untuk menghadapi risiko dan konsekuensi akibat kegiatan seks tadi.
Sistem pendidikan kita telah gagal mencerdaskan moral anak bangsa
IV. KESIMPULAN, SARAN DAN REKOMENDASI
Kesimpulan:
• 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan.
• Virginitas/ keperawanan bukanlah sesuatu yang sangat penting lagi pada saat ini.
• Paradigma budaya kita sudah bergeser jauh.
• Rambu-rambu agama sudah ditinggalkan.
• Bangsa kita sedang mengalami proses erosi moral yang luar biasa menakutkan. Dengan kualitas generasi muda ang bobrok seperti ini, dapat dibayangkan betapa mengerikannya masa depan kita 20 tahun ke depan.
Saran dan Rekomendasi:
• Harus sesegera mungkin dibuat Perda tentang pengelolaan pemukiman komersial.
• Standar paradigmatik usia menikah harus mulai diturunkan untuk mengantisipasi kegiatan seks di luar nikah.
• Peraturan yang melarang seorang pelajar menikah harus direvisi.
• Peraturan, persyaratan dan biaya pernikahan yang ditetapkan oleh pemerintah harus diturunkan.
• Departemen Agama harus mengkaji untuk menginstitusikan lembaga nikah siri

Comments :

8 comments to “97,05% Mahasiswi Yogya Tak Perawan”

ya ampuun..
padahal saya mau kuliah dan nge kos di jogja..
jadi takut juga..

Anonymous said...
on 

Tidak usah takut.

Ini penelitian super ngawur. Kurang kerjaan, bias gender, dan berangkat dari pemikiran yang sesat., semisal Keperawanan=Moralitas.
Mari kita kupas satu satu kesimpulannya

• 97,05% mahasiswi di Yogyakarta sudah tidak perawan.

Dari mana peneliti tahu hal ini? Angket? Wawancara? Untuk memastikan bahwa responden tidak perawan, peneliti harus melakukan pemeriksaan fisik, oleh dokter. Kalau cuma wawancara atau angket, pasti biasnya besar. Kurang kerjaan? Memang. Ngapain bikin penelitian ngurusin urusan privat, bahkan yang paling privat. Apa relevansinya coba dengan perikehidupan bermasyarakat?

• Virginitas/ keperawanan bukanlah sesuatu yang sangat penting lagi pada saat ini.

Ya jelas tho. Oleh karena itu ngapain diurus? Apakah peneliti paham dengan sesungguhnya mengapa perempuan memiliki apa yang disebut selaput dara/hymen yang sering dijadikan tanda keperawanan? Paham posisi hymen dalam sejarah evolusi biologis bentuk-bentuk kehidupan? Dan mengapa dijadikan tanda bagi masyarakat patriarchal? Ini harus masuk dulu ke dalam latar belakang. Mengekalkan keperawanan sebagai pertanda moralitas atau kesetiaan perempuan sama saja dengan mengekalkan ketidakpahaman kita terhadap tubuh dan mengekalkan masyarakat patriarchal, di mana hanya perempuanlah yang harus perawan, sementara laki-laki sah-sah saja tidak perjaka.

• Paradigma budaya kita sudah bergeser jauh.

Paradigma budaya itu apa? Bergeser dari mana ke arah mana? Bangsa Indonesia dulu perawan semua sebelum menikah? Kata siapa? Terjadi peningkatan kegiatan sex (intercourse) pra nikah? Mana statistiknya? Lalu kalau keperawanan berubah, budaya sebelah mana yang berubah? Seni tari? Seni rupa? Budaya pergaulan?

Paradigma budaya, entah apa definisinya, mustinya adalah sesuatu yang cair. Budaya selalu bergerak. Kalau budaya mati, bangsanya pasti mati. Budaya yang tak bergeser lagi, misalnya budaya Pompeii, budaya Azteq, budaya Inca, budaya maya, budaya Mesir kuno. Kenapa? Karena bangsanya udah punah.

Ini adalah penarikan kesimpulan yang terlalu jauh. Yang diteliti selangkangan, kesimpulan yang diambil mencakup seluruh isi pemahaman/pengetahuan dan interaksi manusia (budaya) dalam radius 60 km dari selangkangan. Jelas sampel-nya tidak representatif.

Anonymous said...
on 

• Rambu-rambu agama sudah ditinggalkan.

Masalah keperawanan bisa saja diarahkan pada kesimpulan begitu. Tapi bisa juga diambil kesimpulan bahwa agama kini semakin digunakan sebagai kedok. Artinya, hipokritas/kemunafikan meningkat. Mengapa? Karena penelitian lain menyebutkan bahwa persentase perempuan berjilbab meningkat. Penelitian lain menunjukkan bahwa terjadi peningkatan pesat di sektor bisnis pakaian wanita muslim. Kok pada saat yang sama seks pra-nikah meningkat? PKS menggunakan jumlah penonton Ayat-Ayat Cinta sebagai pertanda bahwa gairah keagamaan (Islam) meningkat. Apakah ini menurunkan jumlah perempuan yang sudah tidak perawan? Perda syairah diterapkan di mana-mana, tapi keperawanan merosot. Coba ada berapa rambu-rambu agama? Berapa banyak yang ngurus selangkangan? Belum lagi kalau bicara mengenai interpretasi atau tafsir, semakin repot lagi.

Kalau dengan meneliti selangkangan berani bilang "paradigma budaya sudah bergeser jauh" mengapa tidak sekalian mengambil kesimpulan, "agama sudah tidak diperlukan lagi karena tidak berguna dan hanya meningkatkan kemunafikan"?

• Bangsa kita sedang mengalami proses erosi moral yang luar biasa menakutkan. Dengan kualitas generasi muda ang bobrok seperti ini, dapat dibayangkan betapa mengerikannya masa depan kita 20 tahun ke depan.

Lha, ini yang saya bilang berangkat dari formula yang salah, tapi dipegang teguh oleh peneliti bahwa keperawanan=moralitas. Terlalu banyak bukti, baik di Indonesia maupun di negara manapun, kehilangan keperawanan akibat aktivitas seksual pra-nikah tidak mengakibatkan erosi moral. Dan generasi muda yang menganut paham sex bebas tidak juga membawa kengerian pada masa depan suatu bangsa atau negara 20 tahun kemudian.

Peneliti harus memberikan beberapa contoh kasus sebagai pembanding yang bisa menunjukkan bahwa tingkat keperawanan amat krusial bagi kemajuan atau sebaliknya bagi kehancuran suatu bangsa.

Kalau ingin membuktikan secara empiris, sebetulnya gampang. Semua gadis yang belum menikah diwajibkan mengenakan celana dalam bergembok dan kuncinya ada di KUA/kantor catatan sipil, dan hanya bisa diambil oleh suami setelah menikah. Tanpa perbaikan sarana kesehatan dan pendidikan, tanpa perbaikan di sektor ekonomi, tanpa perbaikan penegakan hukum dan HAM, tanpa perkembangan teknologi, dan tanpa pergeseran paradigma budaya, kita lihat saja apakah celana dalam bergembok berhasil menyelamatkan bangsa dari kehancuran, atau malah jadi sumber penyakit? Yang pasti keperawanan terjaga bukan? Apa itu yang dimaui oleh si peneliti?

Anonymous said...
on 

Saran dan Rekomendasi:
• Harus sesegera mungkin dibuat Perda tentang pengelolaan pemukiman komersial.

Apa urusannya? Ini namanya memata-matai rakyat untuk urusan yang super tidak penting.

• Standar paradigmatik usia menikah harus mulai diturunkan untuk mengantisipasi kegiatan seks di luar nikah.

Lha ini. Ini juga berangkat dari paradigma yang salah. Saya tidak paham apa yang dimaksud dengan standar paradigmatik. Maksudnya siapa yang harus menurunkan standar usia menikah? Masyarakat? Orang-orang yang ingin menikah? Bagaimana caranya mengubah standar paradigmatik ini? Orang dianjurkan untuk menikah di usia muda? Supaya angka seks-pra menikah menurun? Beranikah peneliti bertanggung jawab bahwa policy ini tidak akan meningkatkan angka perceraian beberapa saat sesudahnya? Tidakkah akan terjadi, ketika usia menikah paradigmatik menurun, usia seks pra-nikah pun ikut menurun, secara paradigmatik? Bukankah demikian kelazimannya?

• Peraturan yang melarang seorang pelajar menikah harus direvisi.

Saya tidak tahu ada peraturan seperti ini, tapi saya setuju bahwa menikah adalah hak asasi setiap orang, dan jika seseorang sudah mencapai usia yang disepakati hukum, seharusnya ia berhak dan boleh menikah terlepas dari statusnya sebagai pelajar, pengangguran, ataupun 'ketuaan.'

Saya sepakat dengan ini, tetapi saya mempertanyakan kaitan peraturan ini dengan keperawanan. Tidakkah terpikir oleh peneliti bahwa ketika para pelajar di usia 18 tahun ramai-ramai menikah, apakah bisa dipastikan bahwa pengantin belum kehilangan keperawanannya di usia 16 atau 14 tahun. Sama dengan usul menurunkan usia menikah paradigmatik itu tadi. Bukankah justru ini dikhawatirkan bisa meningkatkan seks pra nikah di usia sangat-sangat-sangat dini?

• Peraturan, persyaratan dan biaya pernikahan yang ditetapkan oleh pemerintah harus diturunkan.

Saya sepakat di sini. Memang biaya apapun untuk pelayanan negara harus semurah mungkin. Bahkan sebisa mungkin gratis. Kita sudah bayar pajak. Tapi pertanyaannya, apa urusannya dengan keperawanan? Dengan seks pra nikah? Apa kalau murah dijamin orang akan memilih untuk segera menikah dan tidak memilih seks di luar nikah? Apakah penelitian memberikan korelasi signifikan antara tingkat kemampuan mahasiswi membayar/daya beli mahasiswi dengan keperawanannya? Yang lebih kaya lebih terjamin keperawanannya sebelum menikah dibanding yang miskin, yang tak mampu membayar biaya pernikahan yang diterapkan pemerintah?

Maksudnya bagaimana ini? Gadis-gadis yang mampu secara ekonomi lebih memilih untuk menikah karena mampu membayar biaya pernikahan yang diterapkan pemerintah daripada kehilangan keperawanan sebelum menikah dengan pacarnya?

Pernahkah peneliti membayangkan apa yang dilakukan dua orang pasangan ketika memutuskan untuk menikah? Persiapan yang mereka lakukan? Lamanya waktu untuk persiapan?

Dan pernah jugakah peneliti membayangkan bagaimana seorang gadis kehilangan keperawanannya dalam sebuah seks pra-nikah? "Oh, jangan sekarang mas, penetrasi vaginalnya, Mas. Kita daftar ke KUA dulu, kita bilang orang tua dulu, kamu dengan orangtuamu melamar dulu ke orang tua saya, rembug tuo, daftar ke KUA, undang Pak Kadi, ijab kabul, nah kalau sudah ijab kabul, barulah boleh mas penetrasi vaginal."

Bukankah penelitian ini bicara mengenai keperawanan? Mengenai penetrasi vaginal yang merusak selaput dara/hymen perempuan?

Lagi-lagi, bagaimana mungkin urusan selangkangan yang begini sempit (no pun intended) tiba-tiba menghasilkan kesimpulan yang begitu jauh masuk ke dalam sistem anggaran dan administrasi negara? Berapa ribu rupiah penurunan biaya nikah dapat meningkatkan berapa persen keperawanan mahasiswi? Coba, saya mau tanya itu. Kalau gratis? Semua mahasiswi dijamin perawan?

Anonymous said...
on 

• Departemen Agama harus mengkaji untuk menginstitusikan lembaga nikah siri

Nah ini lagi, sama dengan di atas. Nikah siri, nikah kontrak, apa urusannya dengan keperawanan lagi? Apa masalah nikah ke KUA atau ke catatan sipil itu susah makanya para mahasiswi melepaskan keperawanannya sebelum menikah?

Pertanyaan besar sekali: Apa sih urusannya keperawanan (hilangnya hymen/selaput dara wanita) dengan pernikahan?

Apa sih hubugannya seks dengan pernikahan.

Bung, seks is seks, pernikahan is pernikahan. Ini coba lagi belajar evolusi biologi mahluk hidup, pelajari tentang sejarah seks atau sejarah kelamin. Lalu juga belajar sejarah sosial atau sejarah peradaban manusia. Bagaimana lembaga pernikahan/perkawinan diciptakan. Bagaimana lembaga agama dan juga negara kemudian ikut campur tangan dalam lembaga pernikahan dan perkawinan. Ini dipahami dulu.

Kesimpulan besarnya: Penelitian ini berangkat dari pemikiran (paradigma, kata penelitinya) yang sesat. Metoda penelitian tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sample dan responden diragukan validitasnya. Hasil penelitian diragukan validitasnya. Antara subjek penelitian dengan kesimpulan nggak nyambung, blas! Bahasa kerennya: Tidak ada koherensi. Penelitiannya apa, kesimpulannya entah ke mana.

Gitu ya. Bullshitlah si Iip Wijayanto ini. Cari sensasi aja. mBok ngurusi yang lebih penting, semisal tingkat stres mahasiswa dan mahasiswi di Jogjakarta. Kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan negara di Jogjakarta. Daya kritis mahasiswa dan mahasisiwi di Jogjakarta. Kemampuan menyampaikan dan menyerap ide dalam bahasa asing/daerah mahasiswa/i Jogja. Penelitian mengenai ideologi yang dianut mahasiswa/i jogjakarta, mengenai gerakan, dan perubahan arah gerakan mahasiswa/i sepanjang sejarah. Ada jutaan tema bisa dihasilkan dari mahasiswa dan mahasiswi Jogjakarta, kenapa yang dipilih yang paling sempit (no pun intended)? Kenapa malah ngurus selangkangan?

Bukankah 'paradigma' ini berangkat dari alasan yang sama mengapa orang menyewakan, memasarkan, dan menjual tabloid atau VCD porno? Karena ini mengasyikan, sensasional, dan dicari orang?

Anonymous said...
on 

Saya sangat mendukung penelitian ini, untuk memberikan gambaran tentang salah satu sisi pergaulan mahasiswa/i di Jogjakarta. Bukan bullshit dan tidak cari sensasi, kalo memang begitu hasilnya, ya perlu dipublikasikan, tidak perlu malu, tidak perlu takut, atau tersinggung.

Anonymous said...
on 

Hai para wanita yang sudah tidak perawan lagi jujurlah kepada pasangan kalian nanti bahwa kalian itu cewek yang sudah tidak perawan lagi. Tapi aku yakin bahwa cowok mayoritas tidak bisa menerima cewek yang sudah tidak perawan lagi. sudah telat untuk kalian para wanita untuk menyesal,, kalian menangis pasti itu hanya air mata buaya kalian saja karena untuk menutup-nutupi kesalahan kalian. Jadi jujurlah kalian bahwa kalian itu sudahh tidak perawan lagi.

Anonymous said...
on 

otak ngawur ini yg komen.. klo anak cewe lo semuanya nanti ga perawan sebelum nikah.. dan mereka kehilangan keperawanannya di rumah lo sendiri.. daaan yaa anak2 cewe lo hobi banget masukin laki2 yg bukan suami yg berhak ke dalam rumah lo sendiri, kira2 lo suka ga itu terjadi? komen ngawur, boleh lah mengkritisi metode penelitian dgn cara yg nampak ilmiah, tapi bukan brarti pro dgn diperbolehkannya freesex..

ZubhinMehfta said...
on 

Post a Comment

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).