2008-01-30

Sekilas tentang Teknologi Bom

Tempo.co.id-Sebuah bom meledak di Kejagung, Selasa (4/7) petang, dan ‘bom’ menjadi wacana diskusi banyak orang, di banyak tempat. Ada pembicaran gayeng soal siapa kira-kira di balik peledakan tersebut, ada pula yang sok serius mereka-reka jenis bom yang dipakai. Masyarakat awam umumnya memperoleh wawasan soal bom dari film-film Hollywood yang senantiasa berkait dengan teror dan aksi. Tak terlalu salah, tapi juga tak sepenuhnya benar. Lalu apakah bom itu sesungguhnya?
Bom adalah senjata ledak yang lazim digunakan dalam perang, juga dalam aksi-aksi terorisme. Kebanyakan bom terdiri dari wadah logam yang diisi dengan bahan peledak atau bahan kimia, dan suatu alat untuk meledakkan dan menghamburkan isi bom. Ukuran bom beraneka ragam. Yang kecil dapat ditenteng dan dilemparkan dengan tangan, seperti granat, atau ditembakkan dengan senjata altileri. Tapi, bom umumnya dijatuhkan dari pesawat terbang. Kepala ledak (warhead) peluru kendali pada hakikatnya tergolong bom juga.
Kebanyakan bom memiliki sumbu untuk memicu ledakan. Sumbu sentuh meledakkan bom ketika bom menyentuh sasaran. Sumbu kedekatan meledakkan bom ketika bom menghampiri permukaan tanah. Sumbu kedekatan ini bekerja berdasarkan bertambahnya tekanan udara ketika bom itu mendekati tanah. Namun secara garis besar ada dua macam bom: bom biasa dan bom nuklir.
Bom Biasa
Lebih rinci lagi, terdapat lima macam bom biasa, yaitu: (1) bom serbaguna, (2) bom kendali, (3) bom anti-lapis baja, (4) fragmentasi, dan (5) pembakar.
Bom Serbaguna. Bom ini berisi RDX atau TNT (trinitrotoluena) sebagai bahan peledaknya. Bom jenis ini biasa dijatuhkan dari pesawat yang terbang tinggi. Efek merusakanya didasarkan pada ledakan dan tekanan balik ketika udara tersedot lembali untuk mengisi kehampaan. Kecepatan pecahan bom secepat peluru, dengan gelombang kejut yang bisa melewati tanah, air, maupun bangunan.
Bobot bom serbaguna umumnya berkisar antara 100 sampai 1.000 kilogram. Panjangnya dua sampai empat meter. Tapi, ada juga bom serbaguna yang seberat 6.800 kilogram. Jenis ini biasanya dijatuhkan di atas hutan untuk menyiapkan pendaratan helikopter supaya aman.
Bom Kendali. Bom ini diarahkan ke sasaran dengan peralatan elektronik. Ada yang berisi kamera TV yang diarahkan pada sasaran. Pilot mengikuti target pada monitor TV dalam pesawat terbang. Bila ada penyimpangan, pilot dapat mengoreksi jatuhnya bom dengan kendali jarak jauh. Ada pula bom yang telah menyimpan gambar sasaran dalam memorinya dan dapat memandu diri. Bom dapat juga dipandu pengindera laser.
Bom Anti-Lapis Baja. Bom ini digunakan untuk menyerang kapal perang yang tebal lapisan bajanya. Hidung bom ini keras dan tebal, sehingga dapat menembus lapisan baja itu. Setelah menembus, barulah bom itu meledak di dalam kapal.
Bom Fragmentasi. Bom ini berguna untuk membunuh dan melukai pasukan musuh di lapangan terbuka dan merusak pesawat, kendaraan, dan peralatan ringan. Bom ini berisi batangan atau pecahan logam, yang akan pecah menjadi kepingan tajam, ketika bom meletus. Ada juga bom kelompok yang terdiri dari ratusan bom kecil dalam wadah ringan. Setelah lepas dari pesawat, wadahnya terbuka dan bomnya menghambur pada medan yang cukup luas. Ada yang meledak dan ada pula yang berperan sebagai ranjau (ini menunggu picu kedua untuk meledak).
Bom Pembakar. Bom ini berfungsi untuk mengawali kebakaran. Bom ini diisi bensin atau termit, yakni campuran alumunium dan oksida besi. Bobot bom berkisar antara 1,6 sampai 500 kilogram. Salah satu jenis bom pembakar adalah bom napalm, yaitu bom yang terbuat dari bensin yang dibuat seperti selai yang lekat. Setelah bom meledak, selai ini tersebar dan melekat di mana-mana sambil membakar tempat yang dilekatinya.
Bom-bom lain, misalnya bom yang kimia yang menyeburkan asap atau gas racun, bom anti kapal selam (yang meledak di dalam air setelah mencapai kedalaman tertentu), bom propaganda yang menyebarkan selebaran, dan bom suar yang memancarkan cahaya untuk untuk pemotretan malam hari.
Bom Nuklir
Bom nuklir merupakan bom yang memiliki daya ledak yang maha dahsyat. Ledakannya berasal dari peristiwa-peristiwa pembelahan (fisi) dan penggabungan (fusi) inti-inti atom. Efek yang ditimbulkannya merupakan akibat pelepasan energi yang sangat besar, dalam waktu yang sangat singkat. Termasuk dalam jenis ini antara lain bom atom dan bom hidrogen.
Bom yang berasal dari pembelahan inti atom disebut bom atom. Dasar pelepasan tenaga atom adalah pembelahan inti yang berlangsung dengan reaksi berantai. Bom atom memerlukan waktu kurang dari 1/100.000 detik untuk melakukan pembelahan inti dalam jumlah besar, sehingga terjadi pelepasan tenaga sangat besar.
Peristiwa pembelahan inti adalah proses ketika sebuah neutron menabrak suatu inti berat. Akibat tabrakan ini, terjadi pembelahan menjadi dua inti yang lebih kecil dan beberapa butir neutron, dengan disertai pelepasan energi (panas) yang sangat besar. Neutron-neutron ini kemudian menabrak inti-inti lain yang akan membelah lebih lanjut.
Untuk terjadinya peledakan suatu bom atom, dalam reaksi berantai yang terjadi harus terpenuhi kondisi-kondisi berikut: (1) nomor atom unsur induk lebih besar dari 90, (2) setelah menangkap neutron, inti itu seketika membelah menjadi dua bagian yang hampir sama massanya, (3) adanya massa kritis yang bisa menghasilkan neutron sebagai neutron pemula dalam reaksi berantai, (4) jumlah massa sebelum reaksi lebih besar dari jumlah massa sesudah reaksi, (5) dalam setiap reaksi, jumlah neutron yang terjadi harus lebih banyak dari jumlah neutron yang bereaksi.
Bahan bom atom lazimnya adalah uranium-235 atau plutonium-239. Pada prinsipnya, bom atom terdiri dari dua massa yang masing-masing lebih kecil dari massa kritisnya. Tapi, bila digabung menjadi satu massa akan melebihi massa kritis tersebut. Bila hendak diledakkan, kedua massa tersebut digabungkan rapat-rapat sehingga terjadilah rentetan pembelahan inti yang mengakibatkan peledakan yang sangat dahsyat. Sebagai contoh, bom atom generasi awal yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki (1945) memiliki daya ledak sekitar 20.000 ton TNT.
Jenis bom yang lain adalah bom hidrogen. Bom jenis ini mendapatkan tenaga dari fusi inti-inti atom hidrogen berat (deutron). Reaksi penggabungan ini memerlukan suhu yang sangat tinggi untuk memulainya. Untuk itu, pada bom hidrogen digunakan bom atom kecil untuk mengawalinya.
Ledakan bom hidrogen jauh lebih dahsyat daripada ledakan bom atom. Daya ledaknya diukur dalam megaton (juta ton) TNT. Ledakan bom ini akan menghasilkan bola api dengan garis tengah beberapa kilometer disertai timbulnya awan cendawan yang tinggi sekali.
Di samping bom atom dan bom hidrogen, dikenal pula bom kobalt. Neutron yang banyak dihasilkan pada ledakan bom hidrogen dimanfaatkan untuk mengubah kobat biasa (Co-59) menjadi kobalt-60 yang radioaktif. Bom kobalt dibuat dengan menyelubungi sebuah bom hidrogen dengan wadah yang terbuat dari kobalt biasa yang tebal. (Jajang Jamaludin/ dari berbagai sumber)

Comments :

1

terimakasih atas infonya...
semoga sukses selalu...

Rani Fitriyani said...
on 

Post a Comment

Informasi Pilihan Identitas:
Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Lainnya : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonim : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda (tidak disarankan).